Kembali

News

Dari Buku Lusuh hingga Syahadat di Jember: Jejak KH Bahaudin Mudhary dalam Kisah Hijrah Ustadz Nababan

Admin Madura FM 24 Sep 2026 - 3 menit baca
Dari Buku Lusuh hingga Syahadat di Jember: Jejak KH Bahaudin Mudhary dalam Kisah Hijrah Ustadz Nababan
Artikel pilihan redaksi On Air
News Madura FM 102.1

Sebuah buku lawas tentang KH Bahaudin Mudhary jadi awal Ustaz Nababan mengenal Islam, hingga akhirnya bersyahadat di Jember.

MADURA FM - Perjalanan spiritual Ustadz Nababan menuju Islam berawal dari sebuah buku tua yang diterimanya bertahun-tahun lalu di Sumatera Utara. Buku itu diberikan oleh seorang pedagang asal Madura yang kebetulan mengetahui bahwa Nababan saat itu belum memeluk Islam.

Dalam sebuah video yang belakangan beredar, Ustadz Nababan menuturkan awal mula pertemuannya dengan sang pedagang. Setelah mengetahui latar belakang agama Nababan, pedagang tersebut mengajaknya berdiskusi soal keyakinan, lalu menyerahkan sebuah buku yang kondisinya sudah lapuk sampulnya hilang dan halamannya menguning dimakan usia.

Meski tampilannya using, Nababan membawa pulang buku tersebut dan membacanya hingga tuntas. Dari sanalah ia pertama kali mengenal nama KH Bahaudin Mudhary, seorang ulama asal Madura yang kisahnya tertulis dalam buku itu. Isi buku ternyata memuat catatan perdebatan keagamaan antara sang kiai dengan seorang pendeta. Keduanya sempat membuat semacam taruhan keyakinan: siapa pun yang argumennya kalah dalam perdebatan bersedia berpindah agama mengikuti pihak yang menang.

Menurut cerita dalam buku itu, pendeta bernama Antonius akhirnya mengakui kekalahannya dan memutuskan masuk Islam. Kisah inilah yang membuat rasa ingin tahu Nababan semakin besar dan memunculkan keinginannya untuk bertemu langsung dengan KH Bahaudin Mudhary. Sayangnya, keinginan itu tak pernah kesampaian karena sang kiai telah lebih dulu wafat.

Sebagai gantinya, pedagang yang memberinya buku menyarankan Nababan pergi ke Jawa Timur untuk berjumpa dengan tokoh-tokoh yang mendalami ilmu perbandingan agama. Saran itu membawanya ke Jember, tempat ia kemudian dipertemukan dengan beberapa kiai dan terlibat dalam berbagai diskusi keagamaan. Ia mengaku dalam proses tersebut sering merasa argumennya kalah kuat dibanding lawan bicaranya.

Namun bagi Nababan, keputusannya memeluk Islam bukan semata soal menang kalah dalam berdebat. Ia menegaskan bahwa pilihan itu lahir dari kesadaran pribadi setelah melalui proses panjang perenungan. "Allah gerakkan hati saya, diberikan hidayah, saya pun minta masuk Islam atas kesadaran pribadi," ungkapnya.

Ustadz Nababan akhirnya mengucapkan dua kalimat syahadat di Jember. Setelah momen tersebut, salah satu kiai yang membimbingnya meminta agar ia tidak langsung pulang ke Medan, melainkan menetap sementara di Jember untuk memperdalam ilmu agama terlebih dahulu.

Bagi Nababan, nama KH Bahaudin Mudhary bukan sekadar tokoh yang ia kenal lewat halaman buku usang. Kisah perdebatannya dengan Antonius justru menjadi titik balik yang membangkitkan rasa penasaran mendalam soal perbandingan agama rasa penasaran yang pada akhirnya mengantarkannya menemukan keyakinan barunya di Islam.

KH Bahaudin Mudhary sendiri dikenal luas sebagai ulama dan tokoh masyarakat Madura. Namanya diabadikan sebagai nama Universitas Bahaudin Mudhary Madura (UNIBA Madura), yang pendiriannya tak lepas dari cita-cita sang kiai dan kemudian diteruskan oleh putranya.

Sumber: diolah dari kabarmadura.id