News
Kolaborasi Jadi Kunci, Seminar Nasional FISIP UNIJA di Pendopo Agung Keraton Sumenep Dorong Penguatan Ekonomi Kreatif Madura
Seminar Nasional FISIP Universitas Wiraraja menegaskan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat sebagai kunci penguatan ekonomi kreatif serta pariwisata Madura. Kegiatan yang menjadi penutup rangkaian SOMA Vol II ini membahas pengembangan SDM, tata kelola destinasi, dan penguatan identitas daerah melalui desain komunikasi visual untuk meningkatkan daya saing ekonomi kreatif.
Seminar Nasional FISIP Universitas Wiraraja menegaskan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat sebagai kunci penguatan ekonomi kreatif serta pariwisata Madura. Kegiatan yang menjadi penutup rangkaian SOMA Vol II ini membahas pengembangan SDM, tata kelola destinasi, dan penguatan identitas daerah melalui desain komunikasi visual untuk meningkatkan daya saing ekonomi kreatif.
MADURA FM – Pengembangan ekonomi kreatif dan sektor pariwisata di Madura dinilai tidak cukup hanya mengandalkan potensi daerah. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, hingga masyarakat menjadi faktor utama untuk membangun ekosistem yang berkelanjutan.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional bertajuk "Penguatan Ekosistem Ekonomi Kreatif dan Pariwisata Madura" yang digelar Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) dan Administrasi Publik FISIP Universitas Wiraraja di Pendopo Agung Keraton Sumenep, Minggu (19/7/2026).
Seminar yang menjadi penutup rangkaian kegiatan The Spectrum of Madurese Arts (SOMA) Vol II itu diikuti ratusan peserta dari kalangan mahasiswa, pelaku UMKM, komunitas kreatif, hingga pegiat pariwisata.
Ketua Program Studi DKV Universitas Wiraraja, Anis Kurli, mengatakan seminar diselenggarakan sebagai ruang bertemunya berbagai pemangku kepentingan untuk membahas strategi pengembangan ekonomi kreatif yang mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Rektor Universitas Wiraraja dalam sambutannya mengapresiasi seluruh pihak yang telah mendukung penyelenggaraan kegiatan tersebut.
"Saya berterima kasih kepada panitia yang sudah berkontribusi dalam seminar ini, dunia usaha, masyarakat, serta ekonomi kreatif," ujarnya.
Pesan Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo disampaikan oleh perwakilannya, Staf Ahli Bupati Sumenep Bidang Hukum dan Pemerintahan, Hisbul Wathan. Dalam kesempatan itu disampaikan bahwa Kabupaten Sumenep memiliki kekayaan potensi wisata yang sangat beragam, mulai dari wisata bahari, religi, kesehatan, budaya keris, kuliner, fesyen hingga kerajinan anyaman.
Meski demikian, pengembangan sektor tersebut masih menghadapi tantangan, terutama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia dan tata kelola destinasi agar mampu bersaing dengan daerah lain.
"Sumenep memiliki potensi sektor pariwisata. Ada wisata unggulan kesehatan, bahari dan pantai, religi, kreatif keris, kuliner, event, fashion, hingga anyaman. Namun Sumenep harus bersaing dengan destinasi lain dan memiliki hambatan. Tantangannya adalah kesiapan sumber daya manusia dan tata kelola," demikian pesan Bupati.
Dalam sesi diskusi, Adyatama Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ahli Madya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Wawan Darmawan, menekankan pentingnya membangun sinergi antarpemangku kepentingan agar potensi wisata lokal dapat berkembang secara berkelanjutan.
"Ini adalah apresiasi terhadap desa wisata," katanya saat memaparkan perkembangan sektor pariwisata Jawa Timur.
Sementara itu, Kepala Bidang Pembangunan Ekonomi Bakorwil IV Pamekasan, Baidori, menilai peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan agar sektor ekonomi kreatif Madura dapat berkembang lebih cepat.
Di sisi lain, Ketua Aspro DKV Indonesia Chapter Jawa Timur - Bali sekaligus Ketua Program Studi DKV Universitas Dinamika Surabaya, Dhika Yuan Yurisma, memaparkan peran desain komunikasi visual dalam memperkuat identitas daerah sekaligus meningkatkan daya saing produk ekonomi kreatif.
Perspektif akademik disampaikan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Wiraraja, Dr. Rillia Aisyah Haris. Ia mengangkat konsep tata kelola kolaboratif sebagai strategi membangun branding pariwisata Madura agar lebih dikenal secara luas.
"Maukah Sumenep dan semua elemen benar-benar mewujudkan Nusantara? Mau, tapi dalam action dan tindakan, jangan hanya wacana saja," tegasnya.
Seminar berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab yang melibatkan peserta dari berbagai latar belakang. Antusiasme peserta menunjukkan tingginya perhatian terhadap masa depan ekonomi kreatif dan pariwisata Madura.
Rangkaian SOMA Vol II sendiri masih berlanjut hingga Senin (20/7/2026) melalui pameran karya mahasiswa dan workshop painting on mini canvas di Pendopo Museum Keraton Sumenep. Seluruh kegiatan terbuka untuk masyarakat tanpa dipungut biaya.