Kembali

News

Film FOUFO Jadi Bukti Kearifan Lokal Mampu Tembus Industri Nasional, Didukung Kementerian Ekraf hingga Tokoh Madura

Film FOUFO menjadi bukti kearifan lokal Madura mampu menembus industri perfilman nasional. Didukung Kementerian Ekonomi Kreatif sejak tahap pengembangan, film ini mengangkat budaya dan bahasa Madura dengan sekitar 70 persen dialog berbahasa Madura serta melibatkan mayoritas talenta lokal. Film garapan Bayu Skak ini mendapat apresiasi dari Teuku Riefky Harsya dan Achsanul Qosasi sebagai tonggak kebangkitan perfilman berbasis budaya daerah.

Admin Madura FM 05 Jul 2026 - 5 menit baca
Film FOUFO Jadi Bukti Kearifan Lokal Mampu Tembus Industri Nasional, Didukung Kementerian Ekraf hingga Tokoh Madura
Artikel pilihan redaksi On Air
News Madura FM 102.1

Film FOUFO menjadi bukti kearifan lokal Madura mampu menembus industri perfilman nasional. Didukung Kementerian Ekonomi Kreatif sejak tahap pengembangan, film ini mengangkat budaya dan bahasa Madura dengan sekitar 70 persen dialog berbahasa Madura serta melibatkan mayoritas talenta lokal. Film garapan Bayu Skak ini mendapat apresiasi dari Teuku Riefky Harsya dan Achsanul Qosasi sebagai tonggak kebangkitan perfilman berbasis budaya daerah.

MADURA FM - Film FOUFO tidak hanya hadir sebagai tontonan baru di bioskop, tetapi juga menjadi simbol bangkitnya karya perfilman yang berangkat dari identitas budaya daerah. Mengusung latar kehidupan masyarakat Madura dengan dominasi dialog berbahasa Madura, film produksi SKAK Studios bersama SinemArt ini dinilai menjadi contoh bagaimana kekayaan budaya lokal dapat diolah menjadi karya kreatif yang memiliki nilai ekonomi sekaligus daya saing di industri perfilman nasional.

Dukungan terhadap film tersebut datang sejak tahap pengembangan. Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) menjadi salah satu pihak yang mendampingi proses produksi melalui penguatan intellectual property (IP), fasilitasi kolaborasi lintas sektor, hingga memperluas promosi film sebelum resmi tayang serentak di bioskop pada 9 Juli 2026.

Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menilai FOUFO menjadi contoh bahwa cerita dari daerah mampu berkembang menjadi karya yang tidak hanya menarik secara artistik, tetapi juga memiliki nilai ekonomi.

"Kami mengapresiasi upaya Mas Bayu bersama SKAK Studios dan SinemArt yang menghadirkan film dengan mengangkat kearifan lokal Madura. Tahun lalu Mas Bayu datang ke Kementerian Ekraf untuk memperkenalkan Foufo. Hari ini kita melihat komitmen tersebut telah terwujud menjadi sebuah karya yang siap dinikmati masyarakat. Ini membuktikan bahwa cerita dari daerah mampu menjadi tontonan yang menarik sekaligus memiliki potensi ekonomi," ujar Menteri Ekraf saat menghadiri gala premiere film FOUFO di Epicentrum XXI Jakarta, Jumat (3/7), dikutip dari ekraf.

Menurut Kementerian Ekraf, dukungan terhadap FOUFO diberikan sejak proses awal produksi melalui berbagai audiensi yang membahas pengembangan IP, peluang kolaborasi strategis, hingga penguatan promosi film. Produksi FOUFO juga melibatkan sekitar 90 persen talenta lokal, sebagian besar merupakan wajah baru di dunia perfilman, serta didukung sekitar 120 animator dari Hompimpa Animworks Surabaya untuk mengembangkan karakter alien Foufo.

Riefky menegaskan bahwa industri kreatif dapat menjadi ruang bagi pelestarian budaya sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi apabila dikelola secara inovatif.

"Budaya tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dapat dihilirisasi melalui kreativitas, inovasi, dan teknologi sehingga memberikan manfaat ekonomi. Kami berharap semakin banyak sineas di berbagai daerah yang berani mengangkat kearifan lokal melalui karya-karya kreatif," kata Menteri Ekraf, dikutip dari ekraf.

Sutradara FOUFO sekaligus Founder SKAK Studios, Bayu Skak, menyebut dukungan pemerintah menjadi salah satu faktor yang memperkuat proses produksi film tersebut. Ia menilai visi Kementerian Ekraf yang mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dari daerah sejalan dengan misi yang ingin diwujudkan melalui FOUFO.

"Visi Kementerian Ekraf membangun ekonomi kreatif dari daerah sangat selaras dengan apa yang kami lakukan melalui Foufo. Kami ingin membuktikan bahwa talenta di daerah memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya dan berkembang di industri perfilman Indonesia," ujar Bayu, dikutip dari ekraf.

Di sisi lain, apresiasi terhadap FOUFO juga datang dari tokoh Madura sekaligus Presiden Madura United, Prof. Achsanul Qosasi. Menurutnya, film tersebut menjadi tonggak penting karena untuk pertama kalinya bahasa Madura ditempatkan sebagai elemen utama dalam sebuah film nasional, bukan sekadar pelengkap cerita.

"Malam ini layar bercerita tentang kita. FOUFO menaruh bahasa Madura di jantung film nasional, bukan tempelan, bukan bumbu, melainkan denyut utama cerita. Untuk pertama kalinya, anak-anak Madura mendengar bahasa ibunya berbicara dari layar bioskop dengan bangga," ujarnya, Sabtu (4/7/2026), dikutip dari kabar madura.

Prof. AQ juga menilai kehadiran pemerintah melalui Kementerian Ekonomi Kreatif memberikan dampak nyata bagi berkembangnya industri kreatif berbasis daerah. Menurutnya, dukungan tersebut membuka peluang lahirnya karya-karya baru dari berbagai wilayah di Indonesia.

"Terima kasih kepada Pak Menteri Teuku Riefky Harsya atas dukungan yang nyata. Ini bukti bahwa negara hadir ketika daerah berkarya. Dan ini baru awal. Dari satu film akan lahir film-film lain, dari satu keberanian akan tumbuh keberanian yang lain. FOUFO membuka pintu, dan tugas kita menjaga pintu itu tetap terbuka," ungkapnya, dikutip dari kabar madura.

Selain menghadirkan unsur budaya yang kuat, Prof. AQ menilai FOUFO berhasil mengemas berbagai persoalan sosial ke dalam cerita yang ringan dan menghibur. Baginya, film tersebut menunjukkan bahwa komedi dapat berjalan berdampingan dengan pesan-pesan kehidupan.

"FOUFO adalah komedi yang dibumbui substansi. Suatu hari nanti, kita berharap lahir karya sebaliknya, substansi yang dibumbui komedi. Karena tertawa dan berpikir tidak pernah bertentangan. Keduanya bisa berjalan beriringan di dalam satu cerita," tegasnya, dikutip dari kabar madura.

Ia juga berharap FOUFO menjadi awal lahirnya lebih banyak film yang mengangkat berbagai sisi kehidupan masyarakat Madura, sehingga identitas daerah tidak lagi dipersempit oleh stereotip yang selama ini berkembang.

"Madura bukan hanya besi tua dan sate. Ada pengusaha Madura, ada kiai Madura, ada pahlawan-pahlawan dari Madura yang layak diceritakan. Semua wajah itu menunggu gilirannya untuk hadir di layar. FOUFO adalah pembuka jalan, bukan titik akhir," tambahnya, dikutip dari kabar madura.

FOUFO mengisahkan Muslim, seorang pengepul barang rongsokan di Kampung Rombeng yang berjuang mengumpulkan biaya keberangkatan haji sang ibu. Kehidupannya berubah ketika menemukan seekor alien kecil bernama Foufo di lokasi jatuhnya sebuah UFO. Sekitar 70 persen dialog dalam film menggunakan bahasa Madura, sementara sebagian besar pemain dipilih melalui proses open casting yang diikuti sekitar 2.500 peserta.

Diproduksi oleh SKAK Studios bersama SinemArt, film ini dibintangi Tretan Muslim, Bayu Skak, Benidictus Siregar, Habib Ja'far, Fuad Sasmita, Mieke Shahir, Siti Kamariyah, Inayah Wahid, serta karakter Foufo yang diisi suaranya oleh Ade Kurniawan. Film tersebut dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 9 Juli 2026.