Kembali

Lifestyle

Stop Selalu Bilang Iya! People pleaser Bisa Hancurkan Hidupmu

People pleaser adalah kebiasaan selalu menyenangkan orang lain hingga mengorbankan diri sendiri. Belajar bilang "tidak" dan prioritaskan kebahagiaan diri agar tidak stres dan kelelahan mental.

Admin Madura FM 09 Jun 2026 - 6 menit baca
Stop Selalu Bilang Iya! People pleaser Bisa Hancurkan Hidupmu
Artikel pilihan redaksi On Air
Lifestyle Madura FM 102.1

People pleaser adalah kebiasaan selalu menyenangkan orang lain hingga mengorbankan diri sendiri. Belajar bilang "tidak" dan prioritaskan kebahagiaan diri agar tidak stres dan kelelahan mental.

Pernah nggak kamu merasa susah banget buat bilang “tidak” ke orang lain? Setiap ada yang minta bantuan, kamu langsung bilang “iya”, meskipun sebenarnya kamu lagi capek atau punya urusan lain.

Awalnya mungkin kamu cuma nggak enak nolak atau takut bikin orang lain kecewa. Tapi lama-lama, kamu jadi sering melakukan hal yang sebenarnya tidak kamu inginkan hanya demi membuat orang lain senang. Kalau kamu sering mengalami hal seperti ini, bisa jadi kamu memiliki kecenderungan people pleasing. Sifat ini membuat seseorang terlalu berusaha menyenangkan orang lain, bahkan sampai mengorbankan dirinya sendiri.

Apa Itu People pleaser?

People pleaser merupakan istilah untuk menggambarkan seseorang yang terlalu berusaha menyenangkan orang lain, bahkan sampai sering mengorbankan dirinya sendiri. Orang dengan sifat ini biasanya lebih mementingkan kebahagiaan orang lain daripada kebahagiaannya sendiri.

Mereka sering merasa harus menjaga perasaan orang di sekitarnya. Karena takut menyinggung, ditolak, atau memicu konflik, mereka cenderung selalu mengatakan “iya” meskipun sebenarnya tidak ingin atau tidak sanggup melakukannya.

Sekilas, sifat ini memang terlihat seperti sikap baik hati. Namun sebenarnya berbeda dengan sikap tulus membantu orang lain. Orang yang benar-benar murah hati tetap bisa menolong orang lain tanpa melupakan kebutuhan dan batasannya sendiri. Jadi, ada keseimbangan antara membantu orang lain dan menjaga diri sendiri.

Lalu, Dari Mana Sifat People Pleasing Ini Muncul?

People pleasing merupakan sifat yang sering terbentuk dari lingkungan dengan tuntutan yang tinggi. Dalam kondisi seperti ini, seseorang bisa belajar bahwa cara untuk mendapatkan penerimaan, kasih sayang atau penghargaan adalah dengan selalu menyenangkan orang lain. Akhirnya, kebiasaan tersebut terbawa hingga dewasa dan membuat mereka merasa perlu memenuhi harapan orang lain agar tetap diterima.

Ciri-Ciri People pleaser

Agar lebih mudah mengenalinya, ada beberapa tanda yang sering muncul pada seseorang yang memiliki kecenderungan people pleaser. Berikut beberapa cirinya:

1. Sulit mengatakan “tidak”

Orang dengan sifat ini biasanya merasa tidak enak jika harus menolak permintaan orang lain. Akhirnya mereka lebih sering mengatakan “iya”, meskipun sebenarnya mereka tidak au atau sedang tidak mampu melakukannya.

2. Selalu mengutamakan kebahagiaan orang lain

People pleaser cenderung menempatkan kebahagiaan orang lain di atas dirinya sendiri. Mereka lebih fokus membuat orang lain senang, walaupun harus mengorbankan kenyamanan atau kebutuhan pribadi.

3. Sering mengambil pekerjaan lebih banyak

Karena sulit menolak, mereka sering menerima banyak tugas atau tanggung jawab sekaligus. Akibatnya, beban yang ditanggung jadi lebih banyak dibandingkan orang lain.

4. Mudah setuju dengan pendapat orang lain

Walaupun sebenarnya memiliki pendapat sendiri, mereka sering memilih untuk mengikuti atau menyetujui orang lain agar tidak menimbulkan perbedaan atau konflik.

5. Sering meminta maaf

People pleaser juga sering meminta maaf, bahkan untuk hal yang sebenarnya bukan kesalahannya. Ini biasanya dilakukan agar situasi tetap terasa nyaman dan tidak menimbulkan ketegangan.

6. Merasa bersalah saat memprioritaskan diri sendiri

Ketika mencoba mendahulukan kebutuhan diri sendiri, mereka justru merasa bersalah. Seolah-olah memikirkan diri sendiri adalah hal yang egois.

Kalau kamu merasa beberapa ciri di atas sering terjadi dalam hidupmu, bisa jadi kamu memiliki kecenderungan sebagai people pleaser. Membantu orang lain memang hal yang baik, tapi jangan sampai kamu terus mengorbankan diri sendiri hanya untuk menyenangkan orang lain.

Apa penyebab menjadi people pleaser?

Seseorang bisa menjadi people pleaser karena berbagai alasan. Biasanya sifat ini muncul karena takut membuat orang lain kecewa, ingin disukai banyak orang atau takut ditolak dan merasa sendirian. Karena itu, mereka sering memilih mengikuti keinginan orang lain agar tetap diterima di lingkungan sekitarnya.

Selain itu, ada beberapa faktor lain yang juga bisa membuat seseorang memiliki kecenderungan people pleasing, di antaranya:

1. Insecure

Rasa tidak percaya diri sering membuat seseorang merasa kemampuannya kurang atau tidak cukup baik. Akhirnya, mereka mencoba untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain dengan cara selalu membantu atau menuruti permintaan orang di sekitarnya.

2. Trauma masa lalu

Pengalaman di masa lalu juga bisa berpengaruh. Misalnya sering dimarahi, dikritik, atau merasa tidak dihargai. Dari situ, seseorang bisa belajar bahwa menyenangkan orang lain adalah cara agar tidak disalahkan atau ditolak.

3. Menghindari konflik

Banyak people pleaser yang sebenarnya tidak nyaman dengan konflik. Mereka lebih memilih mengalah atau mengikuti keinginan orang lain supaya tidak terjadi pertengkaran atau perdebatan.

Sifat people pleasing biasanya tidak muncul begitu saja. Ada pengalaman, lingkungan dan cara seseorang memandang dirinya yang ikut memengaruhinya. Dengan memahami penyebabnya, seseorang bisa mulai belajar membuat batasan yang lebih sehat tanpa harus terus mengorbankan diri sendiri.

Dampak People Pleaser

Berikut beberapa dampak yang bisa muncul jika seseorang memiliki kecenderungan people pleaser:

1. Stres

Stres menjadi salah satu dampak yang paling sering terjadi. Hal ini muncul karena seseorang terus berusaha memenuhi harapan orang lain, sampai akhirnya merasa tertekan dan kelelahan secara mental.

2. Burnout

Selalu mengutamakan kebahagiaan orang lain juga bisa menguras energi emosional. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini bisa membuat seseorang mengalami burnout atau kelelahan secara fisik dan mental.

3. Kehilangan jati diri

Terlalu sering mengikuti keinginan orang lain dapat membuat seseorang perlahan kehilangan arah tentang apa yang sebenarnya ia inginkan. Seiring berjalannya waktu, mereka bisa merasa tidak lagi mengenal dirinya sendiri.

4. Masalah dalam hubungan

Walaupun tujuannya ingin menjaga hubungan tetap baik, perilaku people pleasing justru bisa membuat hubungan menjadi tidak seimbang. Beberapa orang bahkan bisa memanfaatkan keadaan ini karena tahu bahwa kita sulit menolak.

5. Emosi yang terpendam

People pleaser sering menahan rasa marah, kecewa atau frustrasi karena tidak berani mengungkapkannya. Kalau emosi ini terus dipendam, lama-kelamaan bisa berdampak buruk pada kesehatan mental dan berpotensi meledak dengan cara yang tidak sehat.

Cara Mengatasi Perilaku People Pleaser

Kalau kamu merasa sering terlalu memikirkan orang lain sampai melupakan diri sendiri, ada beberapa cara yang bisa dicoba untuk mulai mengurangi kebiasaan people pleasing.

1. Belajar mengatakan “tidak”

Mulailah dari hal-hal kecil. Awalnya memang terasa tidak enak karena kamu sudah terbiasa mengatakan “iya”. Tapi pelan-pelan, cobalah menolak dengan cara yang sopan dan tetap tegas. Kamu juga tidak harus selalu menjelaskan alasan panjang lebar, karena kamu punya hak untuk menentukan pilihanmu sendiri.

2. Jangan langsung menjawab permintaan orang

Saat ada orang yang meminta bantuan, tidak perlu buru-buru menjawab. Kamu bisa bilang, “Aku pikirkan dulu ya.” Dengan begitu, kamu punya waktu untuk mempertimbangkan apakah kamu benar-benar sanggup atau ingin melakukannya.

3. Mulai memprioritaskan diri sendiri

Memikirkan kebahagiaan diri sendiri itu bukan berarti egois. Kamu juga berhak merasa nyaman dan bahagia. Ingat, kebahagiaan orang lain bukanlah tanggung jawabmu.

4. Tingkatkan rasa percaya diri

Coba mulai fokus ke diri sendiri dan hal-hal yang bisa membuat kamu berkembang. Bangun rasa percaya diri secara perlahan, misalnya dengan memberi afirmasi positif pada diri sendiri agar pikiran negatif tidak terus menguasai.

5. Cari dukungan dari orang terdekat

Kalau merasa capek atau lelah, tidak ada salahnya cerita ke orang yang kamu percaya, seperti temen dekat atau keluarga. Kadang, mendengar pendapat dari orang lain bisa membantu kita melihat situasi dengan lebih jelas.

Menjadi orang yang baik dan suka membantu memang bukan hal yang salah. Tapi kalau kamu sampai terus mengorbankan diri sendiri hanya demi menyenangkan orang lain, itu justru bisa merugikan dirimu sendiri. Kalau kamu merasa sering berada di posisi ini, percayalah kamu tidak sendirian. Banyak orang juga pernah mengalami hal yang sama. Mengubah kebiasaan people pleasing memang tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan.

Kamu tidak perlu takut mengatakan “tidak” hanya karena khawatir orang lain akan menjauh. Justru dengan berani jujur pada diri sendiri dan mulai membuat batasan, kamu bisa tahu siapa saja orang yang benar-benar menghargaimu. Karena pada akhirnya, orang yang tulus akan tetap ada, sementara mereka yang hanya ingin memanfaatkanmu akan pergi dengan sendirinya.