Lifestyle
Apa Itu FOMO? Penyebab dan Cara Ampuh Mengatasinya
FOMO adalah rasa cemas takut ketinggalan tren atau info, sering dipicu media sosial. Atasi dengan digital detox, ubah ke JOMO (Joy of Missing Out), dan kurasi feed agar tidak membandingkan diri.
FOMO adalah rasa cemas takut ketinggalan tren atau info, sering dipicu media sosial. Atasi dengan digital detox, ubah ke JOMO (Joy of Missing Out), dan kurasi feed agar tidak membandingkan diri.
FOMO sudah menjadi istilah yang cukup akrab di era digital, apalagi untuk yang aktif bermain media sosial. Hampir setiap hari feed kita dipenuhi tren, pencapaian dan cerita aktivitas orang lain. Dari situ, FOMO muncul saat ada rasa takut ketinggalan momen. Karena arus konten berjalan terus, banyak orang tanpa sadar mulai membandingkan hidupnya dengan yang dilihat di layar, lalu timbul dorongan untuk ikut terus supaya tidak merasa tertinggal zaman.
Apa Itu FOMO?
FOMO merupakan singkatan dari Fear of Missing Out, yaitu rasa cemas atau gelisah karena takut ketinggalan tren, info atau pengalaman yang dianggap penting. Biasanya muncul saat kita melihat aktivitas atau pencapaian orang lain di media sosial, lalu muncul kesan hidup mereka lebih seru atau lebih maju. Akhirnya, kita jadi terdorong untuk selalu ikut tren dan hadir di berbagai hal, meski sebenarnya tidak semuanya relevan atau perlu buat diri kita.
Istilah ini mulai populer setelah dibahas oleh Dr. Andrew K. Przybylski tahun 2013 dan sebelumnya juga dikenalkan oleh Patrick McGinnis pada saat kuliah di Harvard Business School, pada saat era awal ledakan internet dan medsos seperti Friendster (media sosial pionir buatan Jonathan Abrams pada 2002). Fenomena ini menunjukkan dorongan kuat supaya tidak ketinggalan dari orang lain. Jika tidak dikendalikan, FOMO bisa membuat minder, gampang ambil keputusan impulsif, sampai lelah mental karena terus membandingkan diri sendiri dengan orang lain.
Penyebab FOMO
Fenomena FOMO tidak muncul begitu saja. Ada beberapa penyebab yang memicu rasa takut tertinggal ini, di antaranya yaitu:
1. Penggunaan Media Sosial yang Berlebihan
Algoritma media sosial memang dibuat untuk terus menampilkan konten baru tanpa henti. Saat kita melihat “highlight reel” atau potongan momen terbaik kehidupan orang lain seperti liburan, pencapaian karier atau barang mewah, pikiran kita otomatis membandingkannya dengan kondisi diri yang terasa biasa saja. Perbandingan tidak sadar inilah yang sering membentuk kesan seolah hidup orang lain selalu lebih sempurna dan akhirnya jadi pemicu utama rasa FOMO.
2. Rasa Tidak Puas Terhadap Diri Sendiri
Seseorang yang memiliki tingkat kepuasan hidup atau rasa percaya diri yang rendah cenderung lebih mudah mengalami FOMO. Mereka mencari validasi dari luar dan menganggap kebahagiaan orang lain sebagai standar yang harus dicapai.
3. Kebutuhan akan Validasi Sosial (Social Belonging)
Sebagai makhluk sosial, manusia pada dasarnya ingin diterima dalam kelompok. Saat merasa ketinggalan informasi atau tren, hal itu sering dianggap bisa membuat tersisih dari pergaulan, sehingga muncul rasa khawatir dan dorongan untuk terus ikut perkembangan.
4. Terlalu Banyak Pilihan Informasi
Di era digital, setiap hari kita bertemu banyak pilihan aktivitas dan informasi. Bukannya makin gampang, kondisi ini malah bisa bikin bingung. Ini yang disebut paradox of choice, saat pilihan terlalu banyak justru membuat kita ragu dan kepikiran apakah keputusan yang diambil sudah paling pas atau jangan-jangan ada opsi lain yang lebih menarik.
Cara Mengatasi FOMO di Era Digital
Mengatasi FOMO bukan berarti harus berhenti total menggunakan internet, melainkan membangun hubungan yang lebih sehat dengan teknologi. Berikut adalah langkah-langkah ampuh yang bisa diterapkan:
1. Lakukan Detoks Digital (Digital Detox)
Coba beri waktu jeda dari layar gadget agar pikiran tidak terus dipenuhi konten dan notifikasi. Mulai saja dari langkah sederhana, misalnya tidak membuka media sosial selama satu jam setelah bangun tidur atau satu jam sebelum tidur. Mengurangi durasi penggunaan layar membantu otak bernafas sejenak dan tidak kelelahan karena stimulasi yang berlebihan.
2. Ubah FOMO Menjadi JOMO (Joy of Missing Out)
Joy of Missing Out atau JOMO adalah kebalikan dari FOMO. Intinya, ini soal rasa nyaman walau tidak ikut tren yang sedang ramai. Orang yang menerapkan JOMO biasanya tidak gampang terpancing oleh unggahan orang lain di media sosial, bahkan ada yang memilih membatasi pemakaian atau buka seperlunya saja. Fokusnya dipindah ke hal yang benar-benar membuat hati dan pikiran lebih nyaman, seperti baca buku, olahraga, istirahat yang cukup dan menikmati waktu bersama orang-orang terdekat.
3. Lakukan Journaling
Journaling merupakan kebiasaan menulis isi pikiran dan perasaan secara rutin di catatan pribadi. Bentuknya bisa bebas, mulai dari curhat tertulis, refleksi harian, sampai halaman kreatif yang ditambah foto atau hiasan. Fungsinya jadi ruang aman untuk menyimpan cerita, emosi dan proses diri tanpa harus diposting ke media sosial. Tidak semua momen perlu di-share ke story, banyak yang justru lebih berarti kalau disimpan sebagai catatan pribadi.
4. Kurasi “Feed” Media Sosial
Jangan ragu untuk unfollow atau mute akun-akun yang membuat kita merasa minder, cemas atau tidak berharga. Pastikan feed media sosial berisi konten yang mengedukasi, menghibur dan memotivasi, bukan yang memicu rasa iri.
5. Perkuat Hubungan di Kehidupan Nyata
Daripada hanya mengikuti aktivitas teman lewat layar, coba sempatkan untuk bertemu langsung. Ngobrol dan berinteraksi tatap muka biasanya berasa lebih hangat dan memuaskan secara emosional dibanding hanya memberi like atau komentar di media sosial.
Pada akhirnya, FOMO itu wajar terjadi di tengah cepatnya perkembangan tren dan informasi di era digital. Rasa takut ketinggalan bisa muncul ke siapa saja, tapi tidak harus selalu dituruti. Dengan lebih sadar saat pakai media sosial, mengatur konten yang dikonsumsi dan lebih dekat dengan diri sendiri serta orang sekitar, kita tetap bisa update tanpa ikut stres. Intinya bukan harus ikut semua yang ramai, tapi pintar memilih mana yang memang penting dan bermanfaat. Saat kendali ada di kita, teknologi jadi alat pendukung, bukan sumber tekanan.
Referensi
Budiyanto, MARS. (2026, January 12). Apa itu FOMO? Ini pengertian, gejala, dan dampaknya. Halodoc. https://www.halodoc.com/artikel/apa-itu-fomo-ini-pengertian-gejala-dan-dampaknya#h-apa-itu-fomo
Nanda, S. (2025, October 21). Mengenal FOMO, rasa takut ketinggalan tren di medsos. Brain Academy. https://www.brainacademy.id/blog/apa-itu-fomo
Robby Firmansyah Murzen. (2025, October 30). FOMO: Arti, dampak negatif, dan cara mengatasinya. Alodokter. https://www.alodokter.com/mengenal-fomo-dan-dampak-negatifnya